02 Mei, 2013

Rafael Benitez Masih Punya Kelebihan

Di awal musim ini, Chelsea memiliki setidaknya tujuh trofi untuk mereka raih. Status juara bertahan Liga Champions dan Piala FA membuat mereka memiliki tiga agenda 'otomatis' yang harus mereka jalani. Tiga agenda tersebut adalah Community Shield, Super Eropa dan Piala Dunia Antar Klub

Tapi apa yang terjadi dari Agustus 2012 hingga hari ini, mungkin tidak pernah dibayangkan fans Chelsea sebelumnya.

Jadi, apa yang menjadi faktor kegagalan Chelsea musim ini? Saya sudah membahas perjalanan Chelsea selama separuh musim pertama dalam artikel "Roberto Di Matteo, Yang Tak Diinginkan, Yang Tak Seharusnya Bertahan". Disana terurai jelas bahwa Di Matteo memiliki andil dalam kegagalan Chelsea di Liga Champions dan mengawali kejatuhan klub di Liga Inggris. Berikutnya, jika harus disinkronkan dengan ambisi klub yang ingin meraih gelar bergengsi tiap musimnya, Chelsea sesungguhnya berada dalam fase hibernasi untuk meraih target rutinnya tersebut. Perjalanan kompetisi yang padat, bermain dengan sistem permainan yang agak baru, musim ini sesungguhnya adalah sebuah jembatan transformasi Chelsea yang sesunguhnya. Chelsea belum pernah menjalani fase ini di era Roman Abramovich. Jika ada dalam satu musim dimana Chelsea tidak meraih satu gelar pun di eranya, maka itu bukan berarti Chelsea berada dalam transformasi seperti yang dialami United dari periode 2004-2007, tapi karena secara teknis Chelsea memang kalah bersaing dan kurang beruntung (musim 2003-2004, 2007-08 dan 2010-11).

Ya, Chelsea masih berpeluang menutup musim dengan manis jika berhasil meraih gelar Europa League, tapi bukan berarti Rafael Benitez bisa dikatakan sukses jika dia akhirnya mampu membawa Chelsea meraih gelar yang belum pernah diraih The Blues tersebut. Oh ya, sekalipun dengan tiket Liga Champions, pastinya.

Akan sangat mudah bagi saya mengumbar kelemahan Rafael Benitez dengan catatan kegagalan Chelsea di tiga kompetisi selama dibawahinya (Piala Dunia Antar Klub, Piala Liga Inggris, Piala FA). Tapi, saya tak hanya ingin mengumbar kelemahan Benitez dari pandangan orang awam sepakbola seperti saya. Ya, saya awam sepakbola. Saya adalah fans yang mengutarakan pandangannya dengan tanpa sadar bahwa sudah melibatkan subyektifitasnya, dan menilai berdasarkan apa yang terjadi sejauh mata penglihatan saya. Padahal sepakbola di atas lapangan itu hanya 10 persen dari sepakbola itu sendiri. Jadi, apapun yang saya katakan berikutnya adalah kebenaran milik saya sendiri dan bukan kebenaran milik orang lain yang juga mencintai sepakbola.

Jadi, apa kelebihan (lebih baik membahas kelebihan, kalau kekurangan, sepertinya terlalu mainstream :P ) seorang Rafael Benitez? (menurut saya)


 #1. Membuat pemainnya memahami keputusannya untuk melakukan rotasi di hampir setiap pertandingan

Well, kalau diamati, Chelsea sekarang punya dua tim dengan kekuatan yang tidak jauh berbeda. Tim pertama adalah saat The Blues diperkuat pemain seperti Juan Mata, Eden Hazard, Ramires dalam satu laga. Tim kedua, hanya ada salah satu di antara Mata atau Hazard yang bermain atau bahkan tidak keduanya, tapi mendapat suntikan dari pemain-pemain berpengalaman seperti Frank Lampard dan John Terry.

Sudah tercatat di musim lalu, bagaimana kejatuhan rezim Andre Villas-Boas diawali dengan sikapnya yang arogan dalam menerapkan rotasi tim. Fans Chelsea tahu benar saat Lampard mempublikasikan bahwa dirinya tidak pernah diajak bicara oleh sang manajer mengenai alasan dirinya dibangkucadangkan. Ucapan Lampard inilah yang akhirnya menjadi senjata berkembang biak yang membunuh karir AVB di Stamford Bridge. Keengganan AVB untuk berkomunikasi dengan pemainnya membuat banyak anggota tim tidak simpati kepadanya.

AVB mungkin juga tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya kepada Alex dan Nicolas Anelka bisa menimbulkan rasa sakit hati pada rekan setim mereka saat itu. Saat anda meraih suatu kesuksesan bersama dan bermain bersama cukup lama, solidaritas antar pemain akan sangat kuat. Saat Nicolas Anelka dan Alex dihukum hingga bahkan tak boleh parkir di tempat tim utama, bisa diyakini berapa banyak anggota tim yang bersimpati dengan nasib malang rekannya dan mengumpat AVB dalam hati.

Tapi, Rafael Benitez, dengan sejumlah pengalamannya bisa menghindarkan diri dari perlawanan para pemain (terutama pemain senior) Chelsea. Pernahkah kita mendengar pemain senior seperti John Terry dan Frank Lampard memprotes kebijakan rotasi dari manajer yang (mungkin) paling dibenci oleh fansnya sendiri? Simple saja, Benitez melakukan apa yang dulu tidak dilakukan AVB. Benitez tidak memperluas masalah yang didapatkannya dari sikap suporter Chelsea kepadanya dengan mendapat dukungan dari anak buahnya dalam kebijakan teknis.


#2. Rotasi ala Benitez membawa dampak negatif sekarang, tapi tidak untuk musim depan

Dan, berapa banyak fans Chelsea yang mengomel melihat pelatih Spanyol ini melakukan rotasi hampir di setiap pertandingan? Banyak, banyak, banyak sekali. LOL

Tapi, saya melihat apa yang terjadi pada Man. United musim lalu dan musim ini. Musim lalu, sejumlah bek United silih berganti cedera dan membuat seorang Michael Carrick beberapa kali menjadi seorang bek tengah. Tak hanya bek, Ashley Young, Fletcher, yang notabene seorang gelandang juga terpuruk karena cedera (dan sakit). Ya, Fergie mungkin menerapkan rotasi yang sifatnya kecelakaan atau tidak disengaja, tapi tetap saja Fergie harus memutar otak untuk menentukan starting line upnya di setiap match. Dan buahnya dia petik musim ini.

Rotasi memupuk pengalaman bermain bersama. Kita sudah bisa melihat bahwa United jauh lebih siap menghadapi beberapa skenario buruk musim ini. Cederanya Kagawa, inkonsisten performa Wayne Rooney, Luis Nani, Anderson dan Valencia, kebugaran duet Vidic dan Ferdinand dalam satu match, semuanya bisa diantisipasi karena ada pemain lain yang sudah memiliki pengalaman bermain dengan rekan satu timnya di musim sebelumnya. Tak lagi demam panggung ala David De Gea, Phil Jones atau yang lain. (Walaupun kedatangan RvP juga membawa dampak yang sangat besar, tapi kita juga melihat hal itu pada diri Eden Hazard musim ini, bukan dari hasil yang diraih Chelsea musim ini, tapi transformasi permainan).

Apa yang terjadi pada United, bisa saja terjadi pada Chelsea. Apalagi Chelsea bermain dalam begitu banyak kompetisi yang membuka peluang Benitez melakukan rotasi dan membuat para pemain mendapatkan kesempatan untuk bermain dengan rekan setimnya dalam sebuah kompetisi nyata dan bukan sesi latihan di Cobham. Kedatangan Demba Ba di pertengahan musim, langsung dimanfaatkan untuk menutupi inkonsistensi Torres. Azpilicueta dan Victor Moses juga terlihat lebih berguna semenjak kedatangan Benitez.

Seperti yang saya katakan di alasan nomor dua ini, dampaknya, dilihat dari hasil di atas lapangan, mungkin belum akan terlihat saat ini. Tapi, musim depan Chelsea bisa kembali dengan materi kekuatan yang tak jauh berbeda, namun memiliki kesiapan mental dan teknis yang lebih baik.


#3. Tranformasi David Luiz dari bek menjadi gelandang

Jika harus menilai di bagian lini mana Chelsea paling bermasalah, saya akan menjawabnya di lini tengah, terutama bagian Center Midfielder. Lampard yang sempat cedera di awal musim membuat Chelsea hanya bisa bergantung pada Mikel dan Ramires. Saat Lampard kembali dari cedera, sebulan kemudian Mikel harus membela Nigeria di Piala Afrika, dan kepergiannya cukup lama karena Nigeria berakhir sebagai juara.

Saat ketiganya bisa kembali utuh di bulan Februari, Benitez harus berpikir keras karena dia tahu Lampard sudah berumur 34 tahun dan memiliki cedera paha yang sifatnya berulang, Mikel kelelahan setelah Piala Afrika, dan Ramires adalah pilihan utama di antara ketiganya. Ketiga gelandang tengah ini memiliki masalah fisik karena kondisi masing-masing. Solusi yang muncul adalah 'solusi klasik'. Dikatakan klasik, meskipun tereksekusinya gagasan tersebut adalah hal yang mengejutkan, tapi ide untuk memainkan David Luiz sebagai gelandang tengah bertahan sudah menjadi isu semenjak musim lalu.

Dan, hanya Rafael Benitez yang berani mewujudkan hal itu secara utuh.

Tidak setiap laga David Luiz harus bermain sebagai gelandang bertahan, karena di posisi bek, Chelsea juga kerepotan dengan absennya John Terry di bulan November lalu. Hal itu membuat Ivanovic terkadang juga harus bergeser sebagai bek tengah dari posisi aslinya sebagai bek kanan, menemani Gary Cahill atau David Luiz. Sementara bek kanan diisi oleh Azpilicueta (sekali lagi, ini kelebihan Benitez).

Luiz terlihat menjanjikan sebagai gelandang bertahan, enerjik, lugas, bisa memotong serangan lawan dan juga rajin naik saat tim berada dalam posisi menyerang. kekurangannya hanya pada masalah disiplin. Luiz terkadang agak lupa diri bahwa dirinya hanya seorang gelandang bertahan, dan bukannya gelandang serang atau playmaker.

Jika saja, kondisi di lini pertahanan Chelsea musim ini lebih ideal, mungkin John Terry akan lebih sering berpasangan dengan Ivanovic atau Gary Cahill dan Benitez memiliki kesempatan untuk membuat Luiz lebih akrab dengan posisi sampingannya tersebut.

Sayangnya, kelebihan Benitez ini tidak bisa dia nikmati musim depan karena besar peluang kontrak kerjanya tak akan diperpanjang. Manajer Chelsea berikutnya sangat mungkin akan menuai beberapa keuntungan dari kebijakan Rafa Benitez musim ini. Jadi, adakah terima kasih untuk Fat Spanish Waitress?



#KTBFFH
READ MORE - Rafael Benitez Masih Punya Kelebihan

19 Maret, 2013

Fernando is not El Nino, he is just Torres

Fans Chelsea dalam beberapa bulan terakhir semakin 'terbelah' pada dua kubu.  Tidak hanya untuk satu 'masalah', tapi untuk dua 'masalah'.

'Masalah'  pertama apa yang dimaksud? Yang saya maksud disini adalah pada subjek tertentu. Ya, 'masalah' ini adalah soal Fernando Torres.

Setiap pekan, saya sudah sangat jemu melihat fans Chelsea 'bersitegang' hanya gara-gara dia. Torres ini, Torres itu, 'Dia itu pemain Chelsea harus tetap kita dukung, saya tetap percaya Torres bisa produktif',  atau 'Dia itu pemalas, mandul, useless, bla..bla..bla..'

Dan berhubung ini blog saya, bebas dong saya mau berada di 'pihak yang mana' :P

Ok, yang pertama, Do I hate Torres? YES, but personally :))

Why personally?

Saat dia pertama dia datang ke SB, as a Chelsea fans, saya hepi, well, for delusional reason (OMG, i was so stupid for being delusional ATM). Tapi, apakah anda tidak happy jika salah satu striker terbaik di EPL datang ke tim anda? (cari pembenaran semu)

But as a football fans, I didn't happy that much. (setelah merasa bodoh karena berdelusi, anda butuh alasan biar keliatan sedikit pinter)

Dia datang  di saat, IMO, Liverpool sudah berhasil 'membodohi' Chelsea, seperti yang mereka lakukan di atas lapangan musim itu. Chelsea lost vs Liverpool TWICE at 2010-11's season, just CMIIW...please :-)

Torres yang sebenarnya sudah memiliki gangguan fisik sebelum dia datang ke Chelsea dibanderol 50 juta Pounds. Saat itu, saya cuma mikir, apakah harga skillnya yang tersisa saat itu memang 50 juta Pounds atau,,,,, Chelsea harus menanggung juga 'kerugian' dr segi finansial yang dialami Liverpool karena menjual salah satu ikon, idola atau berhala di Anfield?

Chelsea fans sepertinya harus (dan masih) menunggu untuk melihat Torres yang seperti iblis di kotak penalti lawan saat dia bermain untuk Liverpool. Fans Chelsea tetap menunggu, tapi apakah salah jika mereka mulai (dan begitu banyak yang sudah) kehilangan kesabaran?

Buat saya, yang suka Chelsea sejak 10 tahun lalu, melihat striker gagal itu biasa, it's not a big issue. Crespo? Sheva?  Pizarro? That's why i said the reason i hate Torres is personally...

Di awal musim lalu, media menyebarkan hasil wawancara Torres yang merasa bahwa rekan-rekan setimnya sudah mulai menua dan menjadi lambat adalah alasannya tidak bisa berkembang di Chelsea. Media menulis bahwa hal ini dikatakan Torres dalam sebuah wawancara dengan media resmi Timnas Spanyol.

Tidak ada sanggahan yang benar-benar bersifat sanggahan dari Torres. Pelatih Chelsea saat itu, AVB, justru malah menyatakan bahwa 'pernyataan' Torres itu akan 'dilupakan' karena dua gol ke gawang Racing Gank (CMIIW, tapi yang jelas AVB mengatakan hal itu setelah Torres mencetak gol).

So, he said that or he didn't said that? Based on what AVB said, Torres has said that :P.

Tapi, pernahkah dia meminta maaf secara terbuka pada rekan-rekannya di muka publik seperti saat dia melakukan wawancara tersebut? Tidak pernah. You can't slate your teammate in media and public for any reason.

Soon after, kita tahu AVB kehilangan kepercayaan pada Torres seketika setelah kartu merahnya saat melawan Swansea, meski dia mencetak gol saat itu. Pasalnya, di saat performa mulai menanjak, Drogba belum fit, Torres malah bikin masalah yang gak penting. Dan, setelah laga Swansea, otomatis dia tidak bisa turun di tiga laga domestik yang dijalani Chelsea, plus ada agenda internasional. Jika tahu yang saya maksud, maka kalian akan paham berapa lama waktu yang dibutuhkan Torres untuk bisa kembali ke tim utama setelah kartu merahnya lawan Swansea tanpa harus mengkhawatirkan performa Drogba. LONG TIME, almost A MONTH!

Jadi, saat itu Torres kehilangan posisinya karena salah........??? (coba sebutkan nama orang di titik-titik itu, selain Torres sendiri, nemu gak?)

Dan kita tahu bahwa momen kebangkitan Chelsea dari jurang paling suram di era Abramovich adalah heroisme para pemain seniornya, tanpa mengesampingkan peran-peran pemain muda seperti Juan Mata dan Oriol Romeu. And Torres slated them harsh enough. Pemain tua mana yang dia maksud dalam wawancara itu? Cech? Lampard? Terry? Drogba? Ashley Cole? You've made stupidiest mistake as a TEAM player, Torres. :P

People said "The 50 million pounds has just been repaid by Torres" setelah dia mencetak gol ke gawang kiper kualitas standar yang memperkuat tim terbaik dunia. Well, Chelsea bahkan sebenarnya gak butuh gol Torres untuk lolos jika skornya bertahan sampai laga usai. Betul gak? :P

Intinya, saya tidak nyaman sekali dengan KEBERADAAN Torres. Saya pernah bilang bahwa keberadaannya menciptakan sebuah kondisi dimana orang-orang malah menyalahkan rekan setimnya.

Saya berpihak pada kutipan Dalglish bahwa yang bisa menolong Torres hanya dirinya sendiri.

Tapi, dia bahkan seperti  tidak bisa menolong dirinya sendiri sekarang.

Dia butuh bantuan rekan-rekan setimnya.

Rekan-rekan setimnya sudah melakukan hal tersebut, tapi mereka juga mulai meragukan Torres. They still believe, but they don't always believe him.

So, bantuan terakhir Torres datang di bulan November lalu.

RAFAEL BENITEZ.

Ya, ini 'MASALAH' yang lebih besar lagi buat Chelsea. 'MASALAH' kedua selain Torres.

'MASALAH' menolong 'MASALAH'...

Chelsea lost their mind and they need something special to clear all this problems...

THE SPECIAL ONE.

Writing in my own view only :). Night people.


READ MORE - Fernando is not El Nino, he is just Torres

10 Desember, 2012

Teruntuk Fans Rival 'Yang Paling Menjengkelkan'

PS said the reason why United fans is the most annoying fans is because of their team win so often.

Then i just wanna say, Isn't that the same reason why they pick this team, is it?

(AKU GAK NGURUS GRAMMARNYA BENER ATAU SALAH, SAYA BUKAN MURIDNYA BENHAN!)

Ungkapan di atas hanya bentuk rivalitas semata. Saya punya banyak teman dari klub tetangga sebelah dan mereka seharusnya tahu dengan sejarah klubnya yang panjang itu, battle opini itu lumrah.

Jadi, saat salah satu seleb bola, Pangeran Siahaan, menulis tentang 'Fans Manchester United adalah Fans Paling Menjengkelkan', dia mengungkapkan salah satu alasannya karena Setan Merah sering menang.

Pendek saja tanggapan saya, bukankah itu juga alasan kenapa mereka (fans United) memilih klub dengan gelar Liga Inggris terbanyak tersebut, begitu bukan? Hoaaaammhhhh...

Lalu kenapa Nand?

Gak papa terserah mereka juga mo suka klub mana aja, aku sih suka Chelsea baru sembilan tahun, meski udah suka sepakbola 18 tahun lalu :D

Bentar dulu,,,,,

Maksud saya, saya cuma menyindir segelintir (segelintir dari banyaknya fans United di buni ini itu mungkin sama jumlahnya dengan jumlah bonek di Surabaya dan sekitarnya, Aremania di Malang dan sekitarnya dan sekitarnya, The Jak di Jakarta dan sekitarnya, Viking/Bobotoh di Bandung dan sekitarnya dan bla..bla..bla...) yang selalu mengolok fans Chelsea sebagai fans plastik. Karena mereka (fans United) menilai fans Chelsea musim jamur itu tumbuh di era Roman.

Terserah dong?! Weeekkk :P

Kalo mereka (fans United) bilang fans Chelsea cuma penggila titel atau gelar juara atau penggila kemenangan, sebaiknya mereka juga menjelaskan kepada saya kenapa setiap ada yang mengolok mereka arogan, mereka hampir selalu menjawab, "Not arrogant, just better". Kenapa? Ya gampang banget jawabnya, karena mereka juga fans yang gemar membanggakan jumlah trofi klub kesayangannya. Beres kan?

Artinya, kecuali mereka yg bermukim di Inggris, di kota mereka masing-masing, rasanya gak perlu fans klub luar dalam negeri yang kampungan ini saling melabeli satu sama lain. Gimana, fair kan?

Jadi, itulah keluh kesah saya setelah melihat timeline twitter saya dipenuhi dengan reaksi drama Derby Manchester di Etihad (10/12/2012). Skor akhirnya 2-3 untuk kemenangan United. Meskipun saya terkadang ngelindur empat atau dua hari sebelumnya berharap kedua tim ini kalah, saya tahu hal itu hanya akan terjadi kalo United atau City membuat dua tim, yang satu Man. United A/Man. City A versus Man. United B/Man. City B. Sama-sama tim kota Manchester jadi bisa disebut Derby Manchester, kalau ada salah satu yang kalah maka bisa disebut Manchester United / Manchester City kalah dua-duanya tanpa melibatkan embel A atau B.

Ah, biarlah, setidaknya poin FPL saya lumayan hari ini, sumbangan dari Rafael ama RVP. Saya terbenam di dasar klasemen CISC League, mirip  Nordsjaelland yang dibantai Chelsea 6-1 (agg. 10-1) di UCL kemaren. Ya udah gitu aja.

Btw, kalian paham gak sih saya ngomong apaan?


*pingsan*



READ MORE - Teruntuk Fans Rival 'Yang Paling Menjengkelkan'

24 November, 2012

Roberto Di Matteo: Yang Tak Diinginkan, Yang Tak Seharusnya Bertahan...

Pemecatan Roberto Di Matteo dari kursi manajer Chelsea menjadi kejutan terbesar terbesar tengah pekan ini. Sebagian besar yang membaca berita ini pada hari Rabu sore (21/11) waktu Indonesia, pasti merasa terkejut, bingung dan bertanya-tanya kenapa seorang manajer yang mempersembahkan trofi Liga Champions enam bulan lalu harus dipecat secara tiba-tiba.

Pemecatan Roberto Di Matteo bersifat tiba-tiba? Kata tiba-tiba biasanya diarahkan pada sebuah kondisi dimana orang tidak melihat indikasi atau gejala-gejala akan terjadinya sesuatu yang tidak dibayangkan. Kepergian Roberto Di Matteo dari kursi kepelatihan bukanlah sesuatu yang bersifat tiba-tiba jika semua orang tahu bagaimana kultur Chelsea dibangun di era roman Abramovich.

Sebelum dipaksa melepas jabatan sebagai manajer Chelsea, Di Matteo hanya mampu membawa timnya meraih dua kemenangan dari tujuh laga terakhirnya. Dua kemenangan diraih saat melawan Manchester United di ajang Piala Liga Inggris dan saat menghadapi Shakhtar Donetsk di Liga Champions. Sisanya, kalah tiga kali, yaitu dari Manchester United dan West Brom di Liga Primer Inggris, serta Juventus di Liga Champions.

Dua kemenangan yang diraih terkesan membanggakan, tapi sebenarnya Chelsea bahkan harus berjuang sangat keras untuk menaklukkan sekelompok pemain lapis dua United di ajang sekelas Piala Liga serta keberuntungan di Liga Champions saat Shakhtar Donetsk bermain jauh lebih bagus dari mereka. Justru kekalahan yang mereka raihlah yang menimbulkan dampak lebih besar dari kemenangan yang mereka capai.

Ya, sejak kalah dari Manchester United 28 Oktober silam, Chelsea tak lagi meraih kemenangan di Liga Inggris. Di tengah banyaknya perdebatan bahwa laga itu berselimut kontroversi karena kepemimpinan wasit Mark Clattenburg, pertanyaan lain yang mungkin seharusnya muncul adalah mengapa The Blues bisa kebobolan dua gol begitu cepat lewat manuver serangan sayap Setan Merah? Kekalahan dari United dan juga West Brom membawa dampak hilangnya tahta klasemen dan kini Chelsea menempati posisi tiga klasemen.

Lalu, ehm, kekalahan telak 3-0 dari Juventus. Dampak dari kekalahan ini adalah Chelsea mungkin akan menjadi tim pertama yang tidak lolos ke fase knock out dengan status sebagai juara bertahan Liga Champions. Apakah Roman Abramovich yang terkenal dengan ambisinya sebagai pemenang itu akan bahagia dengan kondisi tersebut? Apakah fans Chelsea merasa tenang-tenang saja?

Bicara soal kebobolan, absennya John Terry jelas menimbulkan efek merusak yang luar biasa. Absennya Terry karena hukuman FA dan ditambah cedera, membuat lawan-lawan Chelsea begitu leluasa mengerjai Petr Cech, kiper yang musim lalu dinilai tampil begitu gemilang dengan sejumlah penyelamatan menawan. Tapi, semua tahu kalau itu bukan salah Petr Cech.

Lalu ini (pemecatan Roberto Di Matteo) semua salah siapa?

Ada beberapa alasan kenapa pemecatan Roberto Di Matteo bisa dikatakan masuk akal. Sedikit meminggirkan faktor sentimen emosional, melihat sosok Roberto Di Matteo sebagai bagian dari sejarah Chelsea saat ia menjadi pemain dan juga menjadi manajer Chelsea pertama yang bisa mengangkat trofi Big Ear, sejatinya menahan Di Matteo lebih lama lagi di Stamford Bridge bukanlah sebuah proyek jangka panjang yang bagus. Meskipun kita juga terkadang bingung kalau harus mendeskripsikan berapa ukuran waktu yang pas di Stamford Bridge untuk dikatakan jangka panjang. Hmmm...


1). Pertentangan Karakter Di Matteo dengan Sistem Permainan yang Dikembangkannya Musim Ini

Jadi, siapa yang pertama kali memberikan cap parkir bus kepada Chelsea musim lalu?

Banyak yang begitu marah melihat langkah Chelsea ke final Liga Champions musim lalu saat menyingkirkan Barcelona di semifinal. Tapi, itu sukses. Semua orang tahu Roberto Di Matteo adalah Italiano, bangsa yang tahu betul bagaimana membangun sistem pertahanan sepakbola terbaik. Meskipun jika dirilik ke belakang tak seluruh rangkaian perjalanan Chelsea musim lalu di era Di Matteo adalah sepenuhnya menunjukkan pertahanan gerendel. Chelsea bisa tegak kepala saat bicara bagaimana mereka menekuk Spurs 5-1 di partai semifinal Piala FA atau saat mengalahkan Liverpool 2-1 di final.

Tapi, sistem permainan yang dirancang Di Matteo adalah bagaimana menempatkan kekuatan lini pertahanan sebagai hal yang utama. Sangat berbeda dengan musim ini dimana hampir sepanjang 90 menit lawan-lawan Chelsea akan melihat bagaimana tiga playmaker Chelsea meliuk-liuk di garis pertahanan mereka.

Perubahan karakter permainan yang ditunjukkan Chelsea musim ini sangatlah berbeda dengan musim lalu. Berkali-kali dalam wawancaranya Di Matteo menyinggung soal disiplin dalam bertahan yang harus dimiliki anak buahnya. Memiliki tiga playmaker yang rajin menyerang tak membuatnya melupakan kekhawatiran soal bagaimana rapuhnya Chelsea jika lawan sudah bisa membaca arah serangan mereka. Dan, bagaimanapun rasanya memang sulit bagi seorang Italiano untuk mengurus sebuah tim yang harus memasukkan tiga attacking playmaker sekaligus, yang harus menerapkan sistem permainan menyerang demi image klub yang diharapkan sang owner saat dirinya sendiri bisa mensukseskan sebuah tim dengan gaya bermain bertahan.

Pembelian tiga pemain seperti Marko Marin, Eden Hazard dan Oscar jelas adalah proyek ideal di mata dewan klub, bukan proyek yang ideal untuk seseorang seperti Roberto Di Matteo.


2). Ekspektasi Muncul Karena Lawan-Lawan Medioker di Awal Musim

Sebelum bertemu Manchester United di pekan ke sembilan, Chelsea hanya sekali tersendat saat ditahan imbang QPR 0-0, selebihnya Chelsea selalu menang. Ya, tapi lawan-lawan Chelsea di delapan laga itu semuanya memang berada di bawah level Chelsea.

Pada sebuah wawancara dengan tv lokal, saya pernah bicara jika ujian Chelsea akan datang di akhir Oktober. Karena selain menghadapi United dua kali, mereka akan menghadapi tim seperti Spurs, dan Shakhtar Donetsk yang belum terkalahkan di Liga Champions. Ujian yang saya katakan saat itu, terwujud akhirnya. Kekuatan mengerikan (katanya) Chelsea langsung seret seketika. Atau bahkan, jika harus dilihat sebelum menjalani pekan kesembilan, Chelsea sudah dibantai Atletico Madrid di ajang Super Eropa dan bagaimana Juventus dan Shakhtar Donetsk menunjukkan seperti apa ujian yang harus dihadapi Chelsea jika bertemu tim selevel.

Ekspektasi yang terlalu cepat timbul di awal musim membuat kepergian Roberto Di Matteo pada Rabu lalu jadi semakin berat diterima fans Chelsea. Banyak yang berkata Di Matteo seharusnya diberi waktu lebih lama lagi karena perjalanan Chelsea musim ini hanya baru bobrok dalam sebulan terakhir. Tapi, sekali lagi pada awal musim ini Chelsea hanya menghadapi lawan-lawan medioker. Arsenal? Come on.... mereka tim peringkat berapa sekarang?

Faktanya juga Chelsea selalu selalu memecat pelatih di era Roman Abramovich saat mereka justru menerapkan permainan atraktif. Masih ingat Luis Fellipe Scolari? Andre Villas Boas? dan tentu saja Roberto Di Matteo....


3). Karena Liga Champions Bukanlah Tolok Ukur Sebenarnya

Banyak yang berat melepas kepergian Roberto Di Matteo karena prestasinya mengantar Chelsea ke panggung tertinggi di Eropa.

Jadi, saya sependapat saat Arsene Wenger menyebutkan jika kekuatan sebuah klub bisa dilihat dari posisi mereka di klasemen Liga (dalam hal ini yang dimaksudkan Wenger adalah Liga Inggris).

"Mungkin titel Liga Champions akan membangkitkan kembali hasrat Abramovich (pemilik klub Chelsea). Tapi, saya juga bangga ketika setiap klub Liga Inggris bisa memenangkan Liga Champions."

"Ini menunjukkan bagaimana kompetitifnya Premier League karena Chelsea hanya finish di posisi keenam di Liga Premier dan itulah yang  menunjukkan kualitas nyata dari sebuah tim."

"Yang lebih penting dari Liga Champions adalah tentang di mana anda finish di Liga. Ini menunjukkan seberapa bagusnya ajang Liga Primer Inggris saat ini."


Arsene Wenger, Agustus 2012. 




Dalam banyak kesempatan yang saya miliki untuk berbicara di radio, ataupun TV lokal, saya selalu berujar jika untuk memenangkan Liga Champions, sebuah tim memerlukan lebih banyak keberuntungan daripada jika mereka berjuang untuk menjadi juara Liga. Kenapa?

UCL bukanlah sebuah kompetisi yang berjalan setiap pekan, ada fase knock out. Di fase grup, setiap tim bermain sekali dalam dua pekan. Ada momen 14 hari yang memutus koneksi sebuah tim dengan atmosfer di Liga Champions. Berbeda dengan Liga yang digelar sepekan, atau bahkan empat hari sekali. Sebuah tim akan merasakan dan mengadaptasi atmosfer kompetisi dalam sebuah proses yang ideal dan sejalan waktu tim-tim terbaik akan menemukan titik tertinggi permainannya.

Belum lagi adanya fase knock out di Liga Champions. Arti dari knock out adalah dua laga terdiri dari home-away dan langsung tersingkir. Nasib sebuah tim ditentukan hanya dari dua laga. Jika mereka kalah agregat atau head to head atau kalah dua kali, selesai sudah. Padahal jarak laga terakhir fase grup dengan fase knock out adalah dua bulan. Dalam dua bulan banyak hal yang bisa terjadi.

Saya bisa katakan, Chelsea layak menjadi juara bukan di musim lalu. Tapi, lihatlah bagaimana Chelsea pada tahun 2004, 2005, 2007, 2008 dan 2009. Apa yang menjegal Chelsea di tahun2 tersebut? Jika saya dikatakan subyektif terserah, tapi bagi saya, itu adalah ketidak beruntungan. Apa yang membuat Chelsea menjadi juara musim lalu? Secara non teknis, saya mengatakan itu adalah KEBERUNTUNGAN.

Jika harus jujur, setidaknya dalam 10 tahun terakhir, kita semakin sering menemui juara Liga Champions yang datang bukan dari tim terbaik turnamen tersebut. Tapi, sebaliknya dalam kompetisi Liga, hanya yang terbaik dan konsistenlah yang layak juara.


4). Posisi Kritis Chelsea di UCL Musim Ini

Saat sebuah tim memiliki seorang kapten Brasil, tiga playmaker jagoan, satu bek tengah terbaik dunia, bek kiri terbaik dunia, kiper yang menjadi nominasi Kiper Terbaik Dunia, striker 50 juta Pounds..status juara bertahan Liga Champions, well apa yang diraih Chelsea di UCL musim ini unacceptable. Ya, UNACCEPTABLE, tidak bisa diterima. Meskipun belum berakhir, tapi sangatlah membingungkan apa yang dialami Chelsea saat ini.

Saya tak akan mengritik kemampuan Di Matteo sebagai manajer. Bagi saya manajer bukan hanya seorang pelatih. Manajer membutuhkan kemampuan soft skill yang lebih bersandar pada karakternya sendiri untuk menjadi andalan anak buahnya. Manajer tak sekedar ahli taktik. Manajer adalah sosok yang mampu menunjukkan kontrol penuh atas anak buahnya, sosok yang 'disayang dan dipercaya anak buahnya', sosok yang bisa dijadikan ayah di tempat latihan. Sosok yang mampu membentuk mentalitas, psikologis sosok-sosok dalam satu tim. Di Matteo memenuhi kriteria seorang manajer (berasal dari manage, artinya yang mengatur), tapi dia bukan tactician atau pelatih handal. Alasannya? Kembali ke paragraf pertama bab 4 ini.

Jadi, mungkin benar apa yang dikatakan teman saya, sesama fans Chelsea. Namanya, Doni Zola. Dia bilang, kalau dia menjadi Di Matteo, dia akan langsung mundur setelah merebut trofi Big Ear..... (walau alasan kami mungkin berbeda).

Anyway, thanks a lot Di Matteo.. Wish you all the best in future, LEGEND!





Btw, setelah Rafa Benitez ditunjuk sebagai manajer, saya sangat membenci keputusan ini. Alasannya? Gak perlu dibahas HAHAHAHAHAHAHAHA

Jadi, ini sedikit uraian saya..(sedikit?). Saya hanya bisa berkata, hingga saat ini, SAYA MASIH CINTA CHELSEA......



READ MORE - Roberto Di Matteo: Yang Tak Diinginkan, Yang Tak Seharusnya Bertahan...